Suka Guyub dan Jago Menari

Polresta Surakarta Cyber news- SEBULAN bertugas di Kelurahan Kramas, Kecamatan Tembalang, Bambang Sularso merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia seperti menyepi dari hirukpikuk keramaian kota. ‘’Sebelumnya saya di Kelurahan Kuningan Mas,’’ ujar pria kelahiran Surakarta, 22 April 1967 itu.

Wajar saja. Sebab, kelurahan berpenduduk 3.450 orang dengan luas wilayah 93,34 hektare itu masih kental dengan budaya pedesaan yang guyub. Warga yang mendiami 6 RWdan 28 RT itu juga menjaga tradisi Jawa seperti bersih desa dan merti desa. ‘’Warga masih senang wayangan, kelompok kuda lumping juga ada, dan kelompok taninya masih banyak. Di Kramas enak banget. Alhamdulillah,’’ kata dia. Kramas dengan jumlah keluarga 1.192 memang berada dalam transisi dari pedesaan ke perkotaan.

Budaya perkotaan yang dibawa pendatang bercampur dengan kearifan lokal penduduk asli. Menurut Bambang, proses transisi tersebut berlangsung halus, dengan tidak menghilangkan tradisi masyarakat setempat. Hampir setiap minggu ada bersih desa yang melibatkan warga.

‘’Di sini wilayah pembangunan, menjadi pengembangan perumahan. Ada beberapa perumahan, tapi nggak hafal saya, wong anyaran, sesasi baru muter-muter,’’ ujar Lurah yang bertugas di Kramas sejak 3 September 2019 itu.

Warga Kramas, menurut pegawai negeri yang 23 tahun bertugas di BKKBN itu, sangat aktif, baik dalam berkesenian, berolahraga, keagamaan, hingga bersih-bersih makam. ‘’Rebana, senam, pengajian, wayangan, dan ndangdutan mesti lo Mas.Kalau bersih desa, ramai banget. Prinsipnya meneruskan yang sudah baik,’’ kata mantan Lurah Tawangsari (2015-2017) itu.

Lantaran budaya kegotongroyongan yang masih kental itulah, pria yang sempat bertugas setahun di Dinas Pertanian tersebut, mengandalkan gotong royong sebagai unggulan wilayahnya. ‘’Dengan gotong royong masalah bisa teratasi, anggaran bisa ditanggung bersama, pekerjaan berat jadi ringan. Komunikasi pun jadi lancar. Apalagi warga di sini masih sedulur. Jadi enak karena semua saudara. Pemerintah kelurahan harus transparan dan terbuka,’’ ujar suami dari L Ratih Budiningrum.

Ayah dari Yohana Maulita Arsaningrum (21) dan Brigida Adinda Arsaningrum (15) itu menyatakan kuncinya harus merangkul tokoh agama. Ia pun berusaha meneruskan keinginan warga.

‘’Kami  nggak perlu buat program baru, program dari masyarakat jalankan saja, ngggak berat. Sing wes ana jalan, daripada ngenek-ngeneke kan kangelan, bersih-bersih wes ana, ya lanjutkan, yang sudah berjalan posyandu lansia senam, jalan saja. Kami tak bisa paksakan masyarakat, lebih bijaksana, lebih mendorong keinginan warga, memotivasi, muaranya kesejahteraan warga,’’papar Bambang.

Misalnya, dia tinggal mendorong pengembangan kampung tematik yang sudah ada, yaitu Kampung Temulawak, meningkatkan kualitas Pos PAUD, dan mempertahankan keguyuban. Kramas juga memikliki rumah pintar yang menjadi pusat kegiatan kreativitas ibu-ibu.

‘’UMKM juga banyak. Nanti kami akan buat pasar krempyeng di halaman kelurahan setiap minggu sekali, yang jualan warga . Pasar krempyeng seminggu sekali ini juga menjadi tempat warga kumpul dan berkomunikasi,’’ tambah lurah yang mengaku juara menari semasa duduk di bangku SMP itu.

Lulusan S-1 Instiper Yogyakarta dan S-2 Manajemen STIE Dharmaputra Semarang itu bisa menemukan kebahagiaan. ‘’Administrasi sepi, jarang, satu minggu dua sampai tiga. Saya gali potensi sering komunikasi dengan tokoh-tokoh. Saya sudah berencana dengan kepala SD Kramas, anak-anak akan saya latih tari kuda-kudaan, kolosal. Beliau bilang, oh ya Pak Lurah cocok,’’cerita Lurah yang berusaha rendah hati, saling asih asuh asah dengan warganya itu.
(SuaraMerdeka)
Polresta Surakarta Cyber news

Leave a reply:

Your email address will not be published.

twenty − nine =

Site Footer