Solopos Hari Ini: SMPN Kekurangan 5.177 Siswa

Polresta Surakarta Cyber News – SOLO — Seluruh daerah di Soloraya mengalami masalah sama dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMPN. Masih banyak kursi kosong di SMPN. Sekolah yang kekurangan siswa kebanyakan berada di pinggiran.Sebagian daerah di Soloraya membuka PPDB offline untuk menutup kekurangan siswa SMPN. Daya tampung SMPN di Soloraya mencapai 49.632 namun jumlah pendaftar tidak sebanyak itu. Masih ada 5.177 kursi yang kosong.

Kabar mengenai PPDB 2019 yang memicu kekurangan siswa di beberapa SMPN di Soloraya itu menjadi headline di Harian Umum Solopos edisi hari ini. Berita itu bisa disimak secara lengkap di: E-Paper Solopos.Selain itu, PPDB 2019 juga memicu komplain terhadap Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Ganjar sendiri mengakui PPDB 2019 cukup rumit.

Sistem Rumit, Ganjar Banyak DikomplainGubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mengakui sistem pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online SMA 2019 rumit. Pemprov Jateng mengupayakan agar proses PPDB online berjalan lancar, tapi tetap saja ada banyak komplain.

Ganjar beberapa kali menghadapi komplain langsung dari orang tua calon siswa ketika sidak ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng di Jl. Pemuda, Semarang. Pertanyaan paling banyak yaitu soal peluang anak mereka masuk sekolah negeri karena tersingkir akibat sistem zonasi.

Simak selengkapnya di: E-Paper Solopos.

Sedangkan di halaman Soloraya, ada ulasan mengenai desa-desa di Sragen yang membutuhkan perpustakaan. Ada pula kisah pedagang layang-layang di Wonogiri.

Desa Butuh Tenaga Khusus Perpustakaan

Bangunan perpustakaan desa dan pengelola khusus menjadi solusi mengatasi keterbengkalaian belasan ribu eksemplar buku di desa-desa di Kabupaten Sragen. Pengelola khusus yang dimaksud adalah orang yang ditunjuk, di luar para perangkat desa, untuk mengelola perpustakaan desa.

Langkah ini yang dinilai logis untuk menghidupkan perpustakaan desa di 137 desa di Kabupaten Sragen. Mantan Kepala Desa Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Ngadiman, mengatakan perpustakaan desa di Desa Cepoko memang belum terwujud karena belum ada bangunan khusus untuk perpustakaan desa.

Baca secara lengkap di: E-Paper Solopos.

Menjual Layang-Layang Tanpa Saingan

Satu per satu Wahono menggantung layang-layang buatannya di tali yang dibentangkan dengan kencang di antara dua tiang listrik di tepi jalan Sukoharjo-Wonogiri ruas Krisak, Singodutan, Selogiri, Wonogiri, Senin (8/7/2019) pukul 07.30 WIB. Dalam waktu tak lama puluhan layang-layang berbahan kain peles dan kain parasut warna-warni itu tergantung menghiasi kawasan dekat Terminal Giri Adipura Wonogiri tersebut.

Sambil menunggu pembeli datang, lelaki berusia 46 tahun itu mengecek tali goci layang-layang berbentuk ikan pari berukuran besar. Dua anak yang berjalan melintas mengamati satu demi satu layang-layang dan sesekali memegangi seperti tertarik ingin membeli. (Solopos)
Polresta Surakarta Cyber News

Leave a reply:

Your email address will not be published.

16 − 9 =

Site Footer