PROSTITUSI DI KAWASAN SEKOLAH : Cium Indikasi Tak Beres, Tapi Sulit Dibuktikan

Polresta Surakarta Cyber News – Untuk menertibkan tempat esek-esek berkedok salon dan panti pijat memang ada sejumlah kendala. Salah satunya terkait pembuktian. Karena saat digelar operasi sering kali lokasi tidak ada aktivitas atau tutup. Adanya pembocor informasi tersebut yang membuat operasi kerap gagal.

Koran ini mendapat informasi dari pengusaha salon plus soal uang informasi yang diberikan pada seseorang atau kelompok dengan nominal jutaan untuk tiap bulannya. Hal ini juga dibenarkan oleh salah seorang penjaja seks di kawasan terminal yang mengatakan ada beberapa pekerja yang membayar Rp 200 ribu untuk uang keamanan.

Kepala Satpol PP Kota Surakarta Sutarja mengakui bahwa banyak rintangan yang kerap ditemui petugas gabungan dalam menertibkan lokasi esek-esek tersebut. Karena itu, pihaknya mengharap peran serta masyarakat untuk terus berkoordinasi dengan petugas jika menemukan indikasi penyalahgunaan tempat usaha yang bertentangan dengan norma-norma di masyarakat.

“Terkait usaha salon atau panti pijat yang disalahgunakan tak perlu kita melihat dekat atau jauh dengan sekolah. Jadi jika sudah ada indikasi ke arah sana bisa langsung ditindak tegas,” kata Sutarjo.

Ia mengaku, untuk pengawasan usaha salon dan panti pijat sejauh ini memang belum maksimal. Hal ini karena keterbatasan personel dan jenis kerawanan yang ditimbulkan. Namun dalam beberapa kasus sudah banyak usaha semacam itu yang telah ditertibkan dan dilakukan pembinaan. Kendati demikian, dirinya mengharap perhatian penuh dari dinas yang langsung membawahi perizinan jenis usaha tersebut.

“Kami pernah kumpulkan semua pengusaha salon dan panti pijat. Ini karena masukan dan isu yang berkembang di masyarakat soal keberadaan salon atau pijat plus di lokasi mereka. Bahkan dalam beberapa kali sidak kami masih belum mendapatkan bukti kuat untuk tuduhan tersebut,” jelas Sutarja.

Agar pengawasan di lingkungan makin baik, ia meminta RT/RW setempat mengajak pengusaha salon atau pijat untuk ikut dan aktif dalam pertemuan warga. Fungsinya agar tidak ada salah pengertian di masyarakat serta menguatkan pengawasan di lingkup publik yang paling kecil.

“Jadi kami tidak hanya sekali dua kali melakukan pengawasan. Bahkan anggota kami sempat kami kirim untuk penyelidikan langsung dengan cara datang sebagai pelanggan. Paling tidak harus ada dua alat bukti cukup untuk menjerat mereka. Tapi hasilnya nihil. Makanya di beberapa lokasi kami wacanakan pada warga untuk membentuk Satgas Anti PSK,” jelas dia.

Untuk meningkatkan perhatian lebih di lingkungan pendidikan, Satpol PP Kota Surakarta segera merealisasikan program Satpol PP Goes to School. Ini penting dilakukan, mengingat Kota Bengawan sudah mendeklarasikan diri sebagai Kota Layak Anak.

“Perlindungan anak bukan hanya dari segi fisik saja tapi juga dari segi moral. Dan penyerapan informasi itu bisa di dapat di musrenbang,” ujarnya.

Sutarja mengatakan, memang indikasi adanya salon dan tempat plus-plus tersebut ada. Misal beberapa salon sempat disidak tidak ada alat potongnya. Bahkan pegawai salon tak bisa menangani perawatan seperti potong rambut dan lainnya. Tapi pihaknya belum bisa menindak karena belum bisa menemukan bukti.

“Tapi kalau salon lain yang tidak dekat sekolah sudah beberapa kami lakukan pembinaan. Pengecekan kami lakukan mendetail, dari tata letak bangunan, keterampilan, bahkan hingga lisensi pegawai salon,” ujar Sekretaris Satpol PP Kota Surakarta Arif Darmawan.

Pengawasan terus dilakukan, baik terbuka melalui operasi maupun tertutup dengan datang sebagai pelanggan. Pada 2017 lalu, ada tiga tempat ditindak karena terbukti menyalahi izin usaha.

Hal serupa juga diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta Hasta Gunawan. Menurut dia, sidak yang selama ini dilakukan bersama tim gabungan dengan Satpol PP dan kepolisian setempat terus dilakukan guna meredam aksi-aksi penyalahgunaan suatu tempat usaha tersebut. Biasanya, itu dilakukan secara berkala dan rutin setiap Ramadan.

“Kami belum mendapat laporan terkait itu, tapi jika ada indikasi ke sana bisa laporkan kepada kami dan akan langsung ditindaklanjuti,” tegas Hasta. (ves/bun)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

3 × three =

Site Footer